Minggu, 06 Mei 2012

Guru smu baru

Ini hari pertamaku mengajar di smu di desa. Sesuai kebijakan depdik di kabupaten, penugasanku ada di desa ini. Tidak banyak persiapanku dari tempat kost, selain motorku yang klasik musti tidak rewel hari ini. Setelah sukses mencoba start dan memanasinya, aku meluncur di jalan makadam depan kost. Sampai jalan besar, tidak terlalu ramai seperti kota asal tempatku.

Sampai depan sekolah, mulai terlihat murid2 yang culun2 memasuki sekolah sambil melirik kedatanganku dengan pandangan bertanya maupun sambil berbisik. Entah karena tampilanku atau motorku. Setelah memarkir motor, mengunci kemudi dan helmku di kursi. Aku melangkah tegap ke ruang kepala sekolah. Sudah 1 minggu kami berbincang, tentang tugas di sini, sekarang saatnya mengucapkan salam di hari rabu ini pada beliau, sebelum memulai hari pengajaranku.

- Pagi Bu Rima - salamku sambil mengetuk pintu
- Ah, masuk mas eh pak. Sekarang biasakan dipanggil Bapak aja ya.
- Silahkan duduk - ujarnya sambil berdiri dan menunjuk ke kursi panjang di ruangannya.

Kemudian kepala sekolah mulai ikut duduk dan tersenyum senang janjiku menemuinya sebelum mengajar terlaksana. Lalu, pembicaraan membosankan mulai datang, basa basi tentang hari hari pertama mengajar mulai terucap. Sampai akhirnya ...


- Permisi Bu, Ruang di 2C sudah bisa digunakan ?

Terdengar suara merdu wanita, yang muncul di depan pintu ruang kepsek.

- Ya, Bu Made, catnya sudah kering sejak senin lalu.
- Bu Made, ini perkenalkan guru fisika yang baru - ibu kepala sekolah memperkenalkan pada wanita cantik di pagi ini di pintu ruangannya.

Setelah berdiri mengucapkan namaku dan menjulurkan tangan, Bu Made tersenyum ramah padaku

- Mengajar di kelas mana pagi ini pak ?
- Di kelas satu tiga. Kata Ibu Rima, kelasnya paling ujung dekat sawah.
- Bu Rima, saya permisi dahulu, ke ruang tata usaha, mengurus rutinitas dulu ...
- Ya, ya silahkan ... semoga lancar, semoga betah di sini ya ...
- Baik, terima kasih Bu ...

Kutinggal mereka berdua di ruang kepala sekolah, kutinggalkan untuk mengurus absensi dan mendengarkan obrolan pagi di ruang guru.
Setelah bel berbunyi, Pak Joko, guru olah raga telah siap dengan trainingnya mulai melangkah ke luar ruangan diikuti guru matematika dan yang lain.
Terlihat semua guru2 di sini memiliki semangat mengajar yang bagus, dari obrolan tadi mereka antusias dengan siswa didik mereka. Saat melangkah menuju kelasku yang ternyata laing jauh, satu persatu aku melirik ke tiap ruangan yang sudah pada tertib, dengan guru di depan ruangan mulai mengabsen kehadiran murid2nya.

Memasuki kelasku, aku mulai merasa ragu2... murid2 di kelasku trlihat lugu, polos, tertib, tidak seperti jaman sma ku dulu. Wah, beda jauh dengan kenakalan kami.

- Selamat Pagi Paaak .. - hampir kompak mereka menyapa

Tersenyum, aku mulai mengajar dengan caraku, meskipun sesuai dengan kurikulum, tetapi cara belajarku pasti beda dengan yang mereka bayangkan.
Tidak ada absensi. Kalo gak suka pelajaran, diluar saja. Boleh didalam asal tidak berbuat onar. Boleh tidur, asal jangan mendengkur. Dan macam2 kebiasaan yang pernah kurasakan saat sekolah dulu ... terlampiaskan pada mereka. Ah senang rasanya hati ini.
Sampai pada saat kulempar penghapus papan tulis ke atas hingga memantul, terlihat mereka mulai paham dengan awal materi yang kuajarkan.
Hingga saat kulenggangkan waktuku membiarkan mereka menyalin tulisan di papan, kuperhatikan mereka satu2.

Ada yang cantik 2 - 3 orang, di depan kelas dan di pinggir kelas. Ada yang selalu melirikku saat menulis dan tersenyum padaku. Yang menguap pun ada, terlihat kurang tidur sepertinya. Yang kukenal hanya dua, gadis yang di tengah, putri pak lurah, yang menunjukkan tempat kost yang akhirnya kusewa, dan temannya gadis cantik di sebelahnya. Mereka kutemui saat bertamu ke rumah pak lurah, atas saran Bu Rima, kepala sekolah.

Setelah memberikan beberapa materi lagi, bel ganti pelajaran berbunyi, dan berlanjut ke kelas lain ... sampai akhirnya saatnya pulang.

Sebelum motorku mulai kunyalakan, Bu Made dan Pak Didit telah disampingku.

- Pak, sekalian untuk acara ramaha tamah, sore nanti bisa ke rumah saya kan ? Guru2 yang lain juga akan datang setelah ashar.
- Baik Bu Made, nanti saya ke sana, semoga tidak kesasar.
- Nah, sekalian saja Bu Made ikut dengan Bapak pulangnya ini, kan bisa tahu sendiri rumahnya. - kata Pak Didin, guru kesenian.
- Ya tidak papa Bu, saya boncengin ke rumah, kalo tidak keberatan
- Oh ya, terima kasih kalau begitu, sebentar, saya ambil tas dulu ... - kata Bu Made sambil membalik badan
- Pak Didin tinggal di mana ? - tanyaku sambil melihat sepeda klasik jaman belanda yang di pegangnya.
- Dekat kok Pak, yuk, saya duluan ...

Di jalan, Bu Made diam saja, berbicara hanya pada saat menunjukkan arah ke rumahnya.

- Bu Made tinggal berdua dengan suami sekarang ? - tanyaku basa basi
- Tidak Pak, suamiku sudah 3 tahun TKI di taiwan, jadi tukan masak di sana.
- Hanya dengan momongan saja di rumah ? - lanjutku
- Belum punya Pak, mungkin belum saatnya - kemudian Bu Made mulai bercerita tentang suaminya dan lain2 ...

Sesampai di depan rumahnya, terlihat rumah kecil di pinggir jembatan dengan luas halaman yang lebar untuk pohon2 mangga. Tinggal sendirian tapi sanggup merawat halaman segini luas ? rumahnya memang tidak besar, tetapi ...

- Mampir Pak, sekedar minum air dingin mungkin
- Baik Bu - sambil kudorong motorku kesamping rumahnya, ke samping motor bebek merah yang sudah parkir lama di situ, terlihat debu tebalnya tidak ikut dibersihkan saat membersihkan halaman rumah ini.

Di ruang tamu aku menyandarkan badan, melihat sekeliling ruangan dan foto2 keluarga.
Saat Bu Made kembali membawa nampan dan gelas berisi es dan air sirup, Bu Made berpamitan mengganti pakaian dahulu sebelum ikut duduk ngobrol.
Sesaat membungkuk menaruh gelas di meja, aku mencuri pandang pada belahan dadanya yang membusung ... indah.
Sendirian lagi di ruang tamu pikiranku mulai ke mana2 sekarang. Dengan macam2 pengalaman kota di desa yang sepi ini, aku mulai memutar otak sambil meminum air sirup di gelas ini.

Saat Bu Made kembali, aku sedang berdiri memandang foto di atas kursi panjang. Sambil menunjuk, aku bertanya,

- Mereka juga tinggal di sini ?
- Oh, mereka tinggal di seberang sungai, saya sendirian dengan Bude Win.
- Bude Win yang ini ? - tanganku ganti menunjuk foto kecil wanita bergandengan dengan Bu Made.
- Ya, nanti sore baru kemari, sekarang masih di seberang sungai tempat adik.

Hmm adiknya juga tak kalah cantik, jika seperti di foto tadi.
Saat kumembungkuk melihar foto lain di etalase, terlihat kembali belahan dada Bu Made yang ikut membungkuk di sebelahku terpantul dari piring perak dalam etalase ruangannya. Lama ku menatap pandangan itu, sampai aku melihat pandangan matanya yang ikut terpantul, menatapku, kemudian melirik arah pandanganku. Sigap dia berdiri sambil tersenyum, merona semu merah wajahnya.

- Indah kok. percayalah - ujarku ikut berdiri sambil memandangnya
- Ah, Bapak ini, sperti apa kalau ..
- Percayalah, anda cantik - berhadapan dengan Bu Made, kupegang kedua lengan atas sikunya.
- Tidak sepatutnya suami anda menyia nyiakan wanita cantik dan berbadan bagus seperti anda di sini sendirian ... - mata Bu Made mulai terlihat kosong
- Jika saja anda mendapatkan apa yang anda inginkan saat sendiri di malam hari - kudekatkan wajahku

Pandangannya seperti tidak melihatku, ada sesuatu di situ ... kuteruskan usahaku

- Seumpama setiap malam ada yang mengucapkan selamat malam sambil menemani malam anda ... - bibirku telah mendekat wajahnya

Kugeser sedikit, mulai kedekati telinga kirinya, dan perlahan berbisik

- Seandainya ada yang menucap ... aku sayang kamu yang cantik ini ...

Kali ni kucium telinganya, kuhisap dengan lembut sambil merangkul memeluk tubuhnya, kulirik jendela kecil di ruang tamu ... terlihat dari belakang dia mengangkat kepalanya dan kedua tangannya mulai mendekap kepalaku.

- Pak ... - lirihnya

Kubimbing perlahan wanita ini ke ruang dalam, menyibak kain antar ruang tamu dan tengah, akhirnya kusampai pada ruang tv, meja makan dan beberapa pintu ruang kamar. Sambil memeluk dan saling memagut leher dan bawah telinga masing2, kuarahakan wanita ini ke ruang pintu yang terbuka. Sekilas terlihat tempat tidur dan seragam guru yang dikenakannya tadi di samping tempat tidur.
Sesampai di kamar tidur, kulepaskan pelukanku dan kupandang wajahnya yang terpejam. Kuraih dan kuangkat keuda jemari tangannya ke arah kepala dan menuju rambutnya, hingga dadanya terliaht membusung menantangku mengecupnya. Segera saja kebenamkan wajahku pada tengah belahan dadanya dan kembali wanita ini meraih kepalaku dan mengusap kepalaku beserta rambut cepak miliku.

Kuraih buah dada kirinya dengan tangan kananku, sementara bibirku telah melumat dadanya yang kanan. Tangan kiriku mulai menarik ke atas baju terusan yang dikenakannya hingga tangan kiri kini dapat meremas dadanya tanpa terhalang bajunya. Tangan kananku pun kini ikut meremas dada kirinya setelah ikut menarik bajunya ke atas. Dengan inisiatifnya sendiri Bu Mande mananggalkan bajunya melalui kepalanya. saat melepas bra sambil terus kuremas2 kedua dadanya, wanita ini miring dan kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke dipan di belakangnya.
Setelah sekian lama memagut,

- Aahhh - rintih wanita ini saat kumulai mencumbu perutnya hingga perlahan ke bawah.

Perlahan kedua tangannya ikut meremas dadanya, saat tanganku mulai turun menarik lepas celana segitiga berkain tipis yang dikenakannya.
Saat mencium, mengusap pangkal pahanya dengan lidahku, kini pakaianku pun telah ikut lepas, hingga terlihat pusakaku menegang menyentuh tepi tempat tidur.
Waktu yang tepat untuk menarik tubuhnya ke tepi tempat tidur, hingga pangkal pahanya tepat bersentuhan dengan pusakaku.

Dengan sidikit melirik ke tepi tempat tidur, wanita ini mulai merasakan gesekan di sekitar pangkal pahanya yang dilakukan pusakaku.

- Terusss maasss masukin mass

Telah berubah panggilanku sekarang, tidak terlalu tua rasanya sekarang di panggil mas olehnya ... Hingga saatnya kumasukan kapala pusakaku perlahan kedalam lubang di pangkal pahanya. Ia merintih, menahan nafas sebentar, kemudian meremas kasur di dipan. Saat itulah mulai terasa sesnsasi hangat menjepit dan menghisap yang teramat nikmat kurasakan pada pusakaku yang semakin dalam melaksanakan tugasnya.
Kutarik perlahan, kubenamkan lagi. Kulakukan berulang- ulang dan semakin cepat hingga ...

- AAAhhh - wanita ini mengejang dengan hebat, melampiaskan apa yang diinginkan salama ini, setelah berlama lama menunggu

Saat kumiringkan badannya, dan kembali memompa bawah tubuhnya, terdengar suaranya lirih ...

- Jangan buru-buru ya mass ... aarghh ... kembali ia menikmati gerakanku di bagian bawah perutnya.

Wanita ini ikut bergoyang, maju mundur, kiri kanan, dan semakin cepat. Hingga ia mengangkat kakinya melebarkan pangkal pahanya, yang kemudian diiringi erangannya

- aaarrrghhh - diikuti goyangan cepatku dan tubuhnya yang mengejang kembali hingga otot di betisnya ikut bergetar ...

Kuhentikan gerakan kami sesaat, hingga ia merenggut pahanya dan mengajakku duduk di atas dipan. Dengan melangkahkan paha kakinya melebar, pangkal pahanya telah bersentuhan lagi dengan pusakaku di posisi dudukku di bawahnya di pinggir dipan ini. Dengan yakin ia membimbing masuk ke dalam bawah perutnya, pusakaku mulai berselimut basah di dalam lubang pangkal pahanya. Dengan gerakan perlahan tapi pasti ia mulai mengangkat pantatnya dan menurunkannya. Membuat pusakaku kembali bergesekan nikmat di sekitarnya. Semakin cepat gerakannya hingga ku sadari hampir tiba waktuku. Tetapi ...

- Tunggu massss !! - jeritnya tertahan sambil menggesekan duduknya maju mundur di atas bawah perutku, membuat kuterpejam menahan sesaat ...
Bebrapa waktu berlalu ...
- AArrrghhh maaaaasssss - kecepatan gesekannya dan tegang pahanya diakhiri kejangan sesaat, membuatku ingin segera mancapai puncakku.

Kubanting tubuhnya kesamping dan kuangkat tinggi2 pahanya sambil kusandarkan pada kedua bahuku, kubenamkan pusakaku dengan cepat dan ganas kebawah perutnya hingga ...

- Ayo mas ... sekarang masss ... - rintihnya sambil mendesah, membuatku iramaku semakin cepat, hingga

- AEGGHH !! pekikku tertahan saat kucapai puncakku tepat di saat kutarik keluar pusakaku hingga cairan hangat kental putihku menyembur ke atas tubuhnya, hingga dagu dan mulutnya.

Wanita ini tersenyum bahagia saat kupeluk dirinya.

- Belum pernah mas, aku merasakan hal yang seperti ini. Suamiku biasanya biasa saja untuk urusan seperti ini. Apalagi sejak ditinggal ke luar negri ...
- Mas, aku mulai senang dengan adanya mas sekarang.

Percakapan kecil terjadi setelah pergumulan tadi, dan terucap dirinya terpuaskan berkali kali tadi. Sambil melirik jam dinding, kuingatkan Bu Made untuk bersiap-siap dengan acara ramah tamah guru2 nanti sore di sini. Seolah tak ingin melepaskanku, Bu Made mulai mencumbu dan mencium tubuhku hingga bawah pusarku.

Sambil menarik kepalanya dengan lembut, kubisikkan

- Sayang, bagaimana kalau kelanjutannya nanti malam saja ... - kuakhiri ucapanku dengan ciupan hangat di bibirnya

Akhirnya, kuakhiri siangku bergumul di rumah Bu Made, dengan janji untuk meneruskannya malam nanti. Bude Win yang masih di rumah adik Bu Made dicegahnya malam ini untuk pulang dengan alasan acara guru2 yang hingga malam.

Sore setelah mandi di kost dan kembali ke rumah Bu Made ikut beramah tamah, dengan para guru2, kudapati ada beberapa guru wanita cantik yang kucatat dalam benakku untuk mencoba berselingkuh dengan mereka. Ada yang sudah menjanda tapi belum sampai 25 tahun umurnya, ada yang sering ditinggal dinas suaminya ke kota, ada juga yang lain.
Yang cantik2 akan kucoba dahulu kapan-kapan, karena malam ni aku bakal bersama wanita cantik yang sering tersenyum menatapku di kursi ruang tamunya ...

Semoga ... hari2 penugasanku di desa ini yang jauh dari kota, bakal membuatku betah ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...