Ini hari pertamaku mengajar di smu di desa. Sesuai kebijakan depdik di kabupaten, penugasanku ada di desa ini. Tidak banyak persiapanku dari tempat kost, selain motorku yang klasik musti tidak rewel hari ini. Setelah sukses mencoba start dan memanasinya, aku meluncur di jalan makadam depan kost. Sampai jalan besar, tidak terlalu ramai seperti kota asal tempatku.
Sampai depan sekolah, mulai terlihat murid2 yang culun2 memasuki sekolah sambil melirik kedatanganku dengan pandangan bertanya maupun sambil berbisik. Entah karena tampilanku atau motorku. Setelah memarkir motor, mengunci kemudi dan helmku di kursi. Aku melangkah tegap ke ruang kepala sekolah. Sudah 1 minggu kami berbincang, tentang tugas di sini, sekarang saatnya mengucapkan salam di hari rabu ini pada beliau, sebelum memulai hari pengajaranku.
- Pagi Bu Rima - salamku sambil mengetuk pintu
- Ah, masuk mas eh pak. Sekarang biasakan dipanggil Bapak aja ya.
- Silahkan duduk - ujarnya sambil berdiri dan menunjuk ke kursi panjang di ruangannya.
Kemudian kepala sekolah mulai ikut duduk dan tersenyum senang janjiku menemuinya sebelum mengajar terlaksana. Lalu, pembicaraan membosankan mulai datang, basa basi tentang hari hari pertama mengajar mulai terucap. Sampai akhirnya ...
Minggu, 06 Mei 2012
Kekuatan cinta
Si Bule petugas Imigration ini mulai membuatku kesal. Dia lebih lama meneliti pasporku dibanding orang-orang sebelumku tadi. Dibolak-balik lagi, padahal visa Italy yang kudapat masih berlaku. Ini memang kunjunganku ketiga ke Roma. Tentu kali ini kunjungan yang berbeda, bukan training seperti sebelumnya, tapi aku melakukan perjalanan ribuan mil kemari hanya punya satu tujuan: Menemui Florence, kekasih gelapku.
Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar. Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia hanya menyebutku 'nekat' untuk affairku yang lain beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku 'naik grade' dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah mungkin yang orang sebut sebagai 'the power of love'.
Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima mengomentari tulisanku di ********* Mail yang masuk itu berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis Chinese.
Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar. Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia hanya menyebutku 'nekat' untuk affairku yang lain beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku 'naik grade' dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah mungkin yang orang sebut sebagai 'the power of love'.
Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima mengomentari tulisanku di ********* Mail yang masuk itu berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis Chinese.
Sisil, Lia, Shanty dan Dini yang kujumpai
Hawa panas kembali menerpa wajahku saat aku membuka pintu taxi.
Rasa yang sama ketika turun dari pesawat tadi. Surabaya memang panas, tapi tidak seperti biasanya seperti ini. Langsung ke lobby sambil berlari kecil aku ingin menikmati AC hotel, tempatku menginap melewatkan malam panjang nanti sendirian, sebelum bertolak ke Malang esok hari.
Di front desk lobby terlihat dua gadis muda cantik front office yang menyambut kedatanganku, yang kutimpali dengan senyum sambil menyebutkan nama dan kode reserfasi yang sudah dipesan. Saat memasukan dompet kembali setelah mengeluarkan kartu-kartu yang diminta, dari arah belakang kanan terdengar ada yang menyapa menyebut namaku.
- Ya ? - jawabku bertanya.
- Masih ingat ? Aku Shanty. - sambungnya.
Kuperhatikan pegawai senior hotel yang berbaju batik ketat, berbeda dengan dua gadis muda di meja reservasi tadi, sosok di depanku ini lebih pantas disebut wanita. Rambut sebahu, bibir senyum dan kulit lengan dan wajah sedikit coklat ini tak pernah terlintas dalam benakku selama ini. Matanya berbinar terasa nuansa riang ada di dalamnya. Sambil mengangkat alis, dia bertanya
- Lupa ?
- Pernah main di Universitas Petra kan ? - lanjutnya
- Aku dulu pernah tinggal di Siwalan Kerto. Hihihi. Sudah lupa ? - tanyanya lagi.
MIAD551 - Moodyz (Moodyz Acid) - Chika Eiro - Sweet Breath Tipsy
Filesize: 1021.8 MB
Download From Ryushare
Langganan:
Postingan (Atom)

