Si Bule petugas Imigration ini mulai membuatku kesal. Dia lebih lama meneliti pasporku dibanding orang-orang sebelumku tadi. Dibolak-balik lagi, padahal visa Italy yang kudapat masih berlaku. Ini memang kunjunganku ketiga ke Roma. Tentu kali ini kunjungan yang berbeda, bukan training seperti sebelumnya, tapi aku melakukan perjalanan ribuan mil kemari hanya punya satu tujuan: Menemui Florence, kekasih gelapku.
Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar. Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia hanya menyebutku 'nekat' untuk affairku yang lain beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku 'naik grade' dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah mungkin yang orang sebut sebagai 'the power of love'.
Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima mengomentari tulisanku di ********* Mail yang masuk itu berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis Chinese.
Sobatku di Bandung, sebut saja Erwin, barangkali benar. Dia menyebutku gila. Gimana nggak, aku terbang belasan jam meninggalkan keluarga dan pekerjaan. Selama ini dia hanya menyebutku 'nekat' untuk affairku yang lain beberapa tahun lalu. Di matanya, berarti aku 'naik grade' dengan kenekatanku sekarang ini. Biarlah. Inilah mungkin yang orang sebut sebagai 'the power of love'.
Kenapa aku sampai segila ini, well.. kubawa Anda flashback sebentar pada awal perkenalanku dengan Florence. Bermula dari sepucuk mail yang kuterima mengomentari tulisanku di ********* Mail yang masuk itu berasal dari mail-address Yahoo.com. Dari namanya, jelas aku dapat menebak bahwa pengirimnya wanita dari etnis Chinese.


